Emas menyentuh level terendah dua bulan meski imbal hasil obligasi dan Dolar AS anjlok tajam. Kekhawatiran inflasi yang dipicu minyak membuat peluang kenaikan suku bunga Desember tetap hidup, dan faktor ini kini lebih berpengaruh dibanding efek positif dari turunnya imbal hasil.
Emas (XAU/USD) jatuh ke level terendah dua bulan di kisaran $4.025 pada hari Kamis, padahal imbal hasil obligasi AS dan Dolar AS sama-sama anjlok tajam. Ini kondisi yang tidak biasa. Selama ini Emas umumnya bergerak searah dengan imbal hasil: ketika imbal hasil turun, Emas naik. Namun pekan ini pola tersebut buyar. Kekhawatiran inflasi yang dipicu kenaikan harga minyak justru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, dan tekanan dari sisi ini kini lebih kuat menyeret Emas turun dibanding dorongan positif dari rendahnya imbal hasil.
Imbal Hasil Turun, Tapi Emas Tak Terpengaruh
Imbal hasil Treasury tenor 10 tahun melorot 18,5 basis poin ke 4,961% pada hari Kamis seiring ambruknya saham-saham terkait AI dan derasnya dana yang mengalir ke obligasi. Indeks Nasdaq Composite anjlok 2,6%, penurunan harian terburuknya sejak Juni. Dalam kondisi normal, turunnya imbal hasil dan melemahnya Dolar menjadi angin segar bagi Emas, karena logam mulia ini tidak memberikan bunga dan biaya memegangnya menjadi lebih murah saat imbal hasil turun. FXStreet mencatat bahwa Emas "gagal memanfaatkan penurunan tajam imbal hasil obligasi AS belakangan ini serta kecenderungan pelemahan Dolar AS yang masih berlangsung."
Minyak Jadi Penggerak Utama
Harga minyak Brent melonjak 4% dan ditutup di level $113,17, tertinggi sejak Mei, menyusul laporan bahwa AS dan Israel tengah menyusun rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilu sela selesai. Harga energi yang tinggi membuat inflasi tetap membara, dan ini membuat bank sentral cenderung mempertahankan kebijakan ketat. Deutsche Bank menyebut para investor "kemungkinan kini mulai memperhitungkan periode harga minyak yang tinggi berkepanjangan hingga jauh ke 2027." Bagi Emas, artinya berita seputar minyak kini bisa lebih berpengaruh ketimbang pergerakan pasar obligasi.
The Fed Bukan Sumber Masalah Saat Ini
Alat CME FedWatch menunjukkan peluang 92,8% bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober, sementara survei Reuters terhadap hampir seluruh ekonom memperkirakan The Fed akan absen menaikkan suku bunga di Oktober namun menaikkannya pada Desember. Ketua The Fed, Warsh, tidak memberi sinyal apa pun soal hasil pertemuan, hanya menegaskan bahwa inflasi yang lebih panas belum mengubah penilaiannya terhadap kondisi perekonomian. Jadi, The Fed bukan sumber tekanan baru pekan ini. Tekanan justru datang dari peluang kenaikan suku bunga Desember yang masih terbuka lebar.
Posisi Emas Saat Ini
Emas telah jebol dari rentang perdagangan yang bertahan sejak pertengahan bulan, dan zona $4.000-$4.100 yang sebelumnya disorot TD Securities kini sudah dilewati. Indeks Relative Strength Index (RSI) harian berada di kisaran 35, mendekati area jenuh jual (oversold), sehingga pergerakan ini terlihat sudah cukup jauh namun belum sepenuhnya kehabisan tenaga. Societe Generale memperingatkan bahwa kegagalan menembus zona resistance ini "bisa mengindikasikan risiko koreksi yang lebih dalam," dengan level terendah bulan Juni di sekitar $3.950 sebagai area penting berikutnya. Arah tren masih bearish, dan level bulat $4.000 menjadi garis yang dipantau ketat oleh para trader.
Makna Perkembangan Ini bagi Emas
Emas kini tidak lagi sekadar mengikuti arah pasar obligasi. Selama minyak terus memicu kekhawatiran inflasi dan peluang kenaikan suku bunga Desember masih hidup, penurunan imbal hasil saja mungkin tidak cukup untuk mengangkat harga Emas. Pemulihan yang berarti kemungkinan baru akan terjadi jika pasar minyak lebih tenang atau muncul bukti bahwa tekanan inflasi mulai mereda. Angka PMI Prices Paid yang panas berpotensi mendorong peluang kenaikan suku bunga Desember kembali mendekati 90% dan menambah tekanan bagi Emas.
Yang Perlu Diwaspadai Para Trader
Rilis PMI flash hari ini, terutama data Prices Paid AS (13:45 GMT), serta data akhir sentimen konsumen University of Michigan
Perkembangan terkait Iran, Aramco, dan Houthi, yang biasanya lebih dulu menggerakkan harga minyak sebelum merembet ke Emas
Berita seputar belanja sektor AI, yang saat ini menjadi penggerak utama pasar obligasi dan Dolar
Pertemuan The Fed pada 28 Oktober, ditambah rilis data PCE AS dan estimasi awal PDB Kuartal III pada 29 Oktober
Apakah Emas mampu bertahan di level bulat $4.000 atau justru membuka jalan menuju level terendah bulan Juni
Kesimpulan: Emas jebol dari level support-nya justru ketika imbal hasil sedang turun, karena kini minyak—bukan pasar obligasi—yang mengendalikan arah kekhawatiran inflasi, dan level $4.000 menjadi garis yang wajib diperhatikan.
Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan saran keuangan atau investasi. Trading mengandung risiko kerugian — selalu lakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan.
Baca disclaimer lengkap.