Harga WTI naik untuk sesi kelima beruntun ke kisaran $94 setelah rudal Houthi menghantam markas besar Aramco dan serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz semakin intensif. Lonjakan produksi OPEC+ sebesar 900.000 barel per hari ternyata belum cukup meredakan kepanikan pasar.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melanjutkan tren kenaikannya untuk sesi kelima berturut-turut, diperdagangkan di kisaran $94,30 per barel pada sesi perdagangan Asia hari Rabu. Pemicu utamanya adalah eskalasi konflik antara Arab Saudi dan kelompok pemberontak Houthi yang didukung Iran, yang memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah secara serius. Bahkan lonjakan besar produksi OPEC+ bulan lalu pun belum cukup untuk meredakan gejolak di pasar.
Serangan ke Aramco
Milisi Houthi Yaman melancarkan serangan rudal pada hari Selasa yang mengenai markas besar Saudi Aramco di Dhahran dan memicu kebakaran di sebagian kompleks tersebut. Serangan ini terjadi setelah sebelumnya pemberontak menyerang bandara utama Riyadh pada akhir pekan, serta menyusul operasi ofensif baru dari koalisi pimpinan Saudi yang berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai pemberontak di Yaman. Ketika markas besar perusahaan minyak paling penting di dunia menjadi sasaran serangan, para pelaku pasar pun harus mulai memperhitungkan risiko bahwa produksi atau ekspor minyak bisa saja terganggu ke depannya.
Hormuz: Ancaman dan Jalan Pintas
Tekanan juga terus berlanjut di sepanjang Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Teheran semakin gencar melancarkan serangan terhadap kapal tanker yang melintasi selat tersebut. Amerika Serikat menyatakan telah membantu mengamankan jalur bagi lebih dari 19 juta barel minyak mentah yang melewati jalur air tersebut — menunjukkan bahwa pengiriman memang masih berjalan, meski dengan risiko yang kian membesar. TD Securities merangkum suasana pasar saat ini: "kekuatan di pasar energi sulit goyah seiring eskalasi serangan terhadap kapal tanker."
Pasokan Bertambah, Namun Belum Cukup Melegakan Pasar
Pasokan minyak sebenarnya terus bertambah. Laporan bulanan OPEC yang dirilis hari Selasa menunjukkan produksi OPEC+ rata-rata mencapai 39,07 juta barel per hari pada bulan September, naik sekitar 900.000 barel per hari dibandingkan Agustus. Arab Saudi menjadi pendorong utama kenaikan ini, dengan produksi mencapai 8,372 juta barel per hari — melonjak lebih dari 2 juta barel per hari. Meski demikian, harga tetap melaju naik, yang mengindikasikan bahwa kekhawatiran pasar lebih tertuju pada ancaman gangguan pasokan ketimbang jumlah produksi minyak itu sendiri.
Ada pula kemungkinan sumber pasokan baru yang tengah dinanti pasar. Para pelaku pasar berharap kesepakatan diesel antara AS dan Rusia dapat membuka keran tambahan pasokan dari Moskow. Namun, Kremlin menegaskan tidak melihat adanya keterkaitan langsung antara kesepakatan ekspor diesel Rusia dengan sikapnya terhadap perundingan damai Ukraina — tanggapan ini muncul setelah laporan Reuters menyebutkan bahwa utusan AS telah memberi tahu pejabat Ukraina bahwa ekspor diesel tersebut merupakan bagian dari upaya menarik Moskow kembali ke meja perundingan. Selama rinciannya belum jelas, hal ini tetap sebatas harapan, bukan pasokan nyata.
Apa Artinya Bagi Pasar Minyak
Reli harga kali ini dibangun di atas faktor keamanan, bukan karena kelangkaan pasokan di lapangan. Selama serangan terhadap infrastruktur Saudi dan kapal tanker di Hormuz terus berlanjut, premi risiko kemungkinan akan tetap tertanam dalam harga, sementara angka produksi yang lebih tinggi hanya berperan sebagai peredam sebagian. Kenaikan harga minyak juga ikut mendorong ekspektasi inflasi dan imbal hasil obligasi, itulah sebabnya bank sentral maupun pasar Emas begitu cermat mengamati pergerakan minyak mentah. Jika eskalasi mereda tiba-tiba atau kesepakatan diesel Rusia menjadi lebih jelas, harga berpotensi terkoreksi dengan cepat.
Yang Perlu Diwaspadai Para Trader
Potensi serangan lanjutan Houthi terhadap target-target Saudi dan operasi ofensif koalisi pimpinan Saudi di Yaman
Serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz serta perkembangan pengawalan kapal oleh AS
Rincian kesepakatan diesel AS-Rusia dan sikap resmi Kremlin
Laporan CPI AS hari ini, mengingat inflasi yang didorong harga minyak turut membentuk ekspektasi kebijakan The Fed
Perkembangan produksi OPEC+ berikutnya, menyusul kenaikan 900.000 barel per hari pada bulan September
Intinya: Harga minyak naik karena kekhawatiran akan gangguan pasokan, bukan karena kelangkaan pasokan itu sendiri, dan perang yang kini telah menyentuh markas besar Aramco membuat kekhawatiran tersebut tetap hidup.
Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan saran keuangan atau investasi. Trading mengandung risiko kerugian — selalu lakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan.
Baca disclaimer lengkap.