Brent melonjak ke level tertinggi sejak Mei setelah muncul laporan rencana serangan AS-Israel ke Iran pasca pemilu paruh waktu, sementara serangan Houthi dan evakuasi kantor pusat Aramco memicu kekhawatiran terhadap pasokan Arab Saudi.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran $98,80, naik untuk hari kedua berturut-turut dan mendekati level tertinggi dalam lima minggu terakhir. Brent melonjak 4% pada Kamis dan ditutup di $113,17, level tertinggi sejak Mei. Pemicunya adalah laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel tengah menyusun rencana serangan baru terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu, ditambah serangan terbaru kelompok Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi. Selama beberapa minggu terakhir, yield obligasi menjadi penggerak utama arah pasar. Namun pekan ini, giliran minyak yang kembali mengambil alih peran tersebut.
Perang Merambah ke Kantor Pusat Aramco
Dikabarkan Aramco telah meminta staf kantor pusatnya di Dhahran untuk dievakuasi, menandai evakuasi besar pertama sejak perang berlangsung. Kelompok Houthi menyerang Yanbu dan sebuah bandara, sementara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa serangan baru AS dapat mendorong Teheran untuk menyerbu negara-negara tetangga serta menyerang basis militer yang digunakan AS. Setiap eskalasi ini semakin memperbesar risiko terganggunya pasokan fisik, dan itulah sebabnya pasar terus menambahkan premi risiko ke dalam harga.
Ritterbusch and Associates menggambarkan pergerakan ini dengan menyebut bahwa "sektor energi kembali menguat seiring suntikan premi risiko yang kuat, menyusul serangan tambahan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi di tengah isu rencana serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pasca pemilu paruh waktu." Infrastruktur energi Iran dikabarkan menjadi salah satu target yang berpotensi disasar.
Faktor-Faktor Lain yang Turut Berperan
Di Eropa, Ukraina meningkatkan intensitas serangan terhadap kilang-kilang minyak Rusia, bersamaan dengan kesepakatan AS-Rusia terkait pasokan solar, yang menambah ketidakpastian baru bagi pasar produk olahan minyak. Deutsche Bank menyebut bahwa investor "kini mulai memperhitungkan kemungkinan periode harga minyak tinggi yang berkepanjangan hingga 2027," sinyal bahwa pelaku pasar memandang situasi ini bukan sekadar lonjakan sesaat.
Mengapa Minyak Begitu Berpengaruh terhadap Pasar Lain
Kenaikan harga minyak terus menjaga kekhawatiran inflasi tetap hidup, dan itulah alasan mengapa harga emas justru turun ke level terendah dalam dua bulan pada Kamis, meski yield obligasi anjlok tajam. Hal ini juga menjelaskan mengapa peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember masih terbuka, kendati penahanan suku bunga pada Oktober hampir dipastikan terjadi — tercermin dari alat CME FedWatch yang menunjukkan probabilitas 92,8% tidak ada perubahan suku bunga. Saat ini, minyak menjadi kekuatan utama yang menghubungkan geopolitik, inflasi, dan kebijakan bank sentral.
Apa Artinya Ini bagi Harga Minyak
Arah pergerakan tetap bullish selama berita seputar Iran terus bermunculan. WTI kini berada mendekati level tertinggi dalam lima minggu, dan berita mengenai rencana serangan serta ancaman terhadap infrastruktur Arab Saudi berpotensi mendorong kenaikan lebih lanjut. Risiko penurunan utama datang dari kemungkinan terobosan diplomatik atau tanda-tanda de-eskalasi yang jelas, yang bisa dengan cepat menghapus premi risiko dari harga. Untuk saat ini, pasar sedang memperdagangkan ancaman gangguan pasokan, bukan kekurangan pasokan yang sudah terjadi.
Yang Perlu Diantisipasi Para Trader
Perkembangan terkait Iran: rencana serangan AS-Israel, ancaman dari IRGC, dan sinyal diplomatik apa pun
Serangan Houthi terhadap infrastruktur Arab Saudi serta perkembangan situasi di kantor Aramco Dhahran
Serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia serta detail kesepakatan solar antara AS dan Rusia
Data flash PMI hari ini, khususnya indikator Prices Paid, serta pertemuan The Fed pekan depan (28 Oktober) dan data inflasi PCE AS (29 Oktober)
Pemilu paruh waktu AS pada 3 November, yang dipandang pasar sebagai kemungkinan titik balik kebijakan terhadap Iran
Kesimpulan: Minyak kembali memegang kendali pasar karena ancaman gangguan pasokan terus meningkat, dan hanya terobosan diplomatik yang nyata yang berpotensi menghapus premi risiko dari harga.
Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi, bukan merupakan saran keuangan atau investasi. Trading mengandung risiko kerugian — selalu lakukan riset sendiri sebelum mengambil keputusan.
Baca disclaimer lengkap.